Saat Anak pada Satu titik, “Depresi” Yuk Curhat

Entah apa yang saya pikirkan 15 tahun lalu, yang ada hanya lobang hitam yang “menganga” lebar. seakan tak ada lagi kehidupan selain diriku seorang, kehidupan yang terus menerus terulang, makin lama membuatku muak dengan yang namanya kehidupan, mulai tidak percaya akan takdir yang tuhan telah berikan ingin sekali bertanya “kenapa kau berikan aku hidup dengan semua kekurangan”. Hampir satu bulan pertanyaan itu ada dalam pikiranku, ingin sekali ku usik dan mengusirnya jauh-jauh namun tak sanggup….. Ingin sekali aku mengakhiri hidup ini tanpa pikir panjang… ku ambil satu silet kecil yang baru saja ku beli mencoba membuat garis vertikal dilengan tanganku, cairan merah mengalir begitu saja dari setiap goresan yang aku buat ketika itu yang aku rasakan ada sebuah rasa puas dan  pasrah akan hidup ini…..

Mungkin saat itu aku berada di satu titik yang bernama “Depresi”, anak 15 tahun yang kurang perhatian keluarga, dan kedua orang tuanya bekerja untuk menutupi kebutuhan sandang,pangan dan papan. Aku bukan hidup dari keluarga yang kaya setiap permintaanku hampir tidak terpenuhi oleh kedua orangtua, bukan karna mereka tidak mampu tapi mereka lebih mementingkan kebutukan kakak laki-lakiku. Mungkin aku Cemburu atau iri??. Tidak aku tidak cemburu tapi perbedaan itu terlihat jelas diantara kami, Ingin rasanya aku lahir menjadi laki-laki agar ibuku sedikit saja memperhatikanku dengan tulus, kegilaanku tak berhenti sampai disitu… semakin hari hal yang aku lakukan semakin Extrim…. aku mencoba meminum obat serangga, yahh hasilnya WOWWW  kedua orangtuaku tetap menyalahkanku akan kejadian itu tanpa ada koreksi dalam dirinya.

Saat di Puskesmas daerah rumahku, aku mendapatkan pertolongan pertama. Pandanganku hilang semua terasa begitu berat dan tampak buram seakan ada menunggu malaikat menjemputku, tapi hal itu tak pernah kunjung datang. Keesokan harinya seorang dokter menghampiriku, sambil mengusap pundakku “menangislah dan keluarkan apa yang terganjal dalam hatimu selama ini, keluarkan semua amarahmu, sedihmu dan berbagilah denganku aku disini untukmu”.

Ternyata saat itu aku ada dalam “Titik Depresi”, Depresi adalah keaadaan/penyakit dengan gejala rasa sedih yang berkepanjangan dan hilangnya minat melakukan kegiatan yang biasanya anda sukai, diikuti dengan ketidakmampuan menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya selama dua minggu.

Ada dukungan moril dan pendengar yang baik membuat aku bangkit dari “Depresi” Jakarta, 5 April 2017, Saya mendapat kesempatan untuk mengenal dan mendalami apa arti depresi yang sesungguhnya dan hal apa saja yang dapat menyebabkan depresi pada seseorang. Berlokasi di Kementrian Kesehatan RI (Direktorat pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular) Jl. Percetakan Negara Jakarta.

Diskusi kali ini ada beberapa narasumber  Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH, dr Eka Viora SpKJ dan Nursiladewi dari WHO (World Health Organization). “Depresi, Lets Talk” menjadi tema peringatan Hari Kesehatan sedunia yang jatuh pada 7 april 2017.

Apa itu Depresi??

Depresi merupakan sebuah penyakit yang tak dapat dianggap sebagai kelemahan karakter, Depresi dapat disembuhkan untuk cara dan lama pengendalianya bergantung pada tingkat keparahan deresi. Dukungan dari perawat, teman dan keluarga akan membantu penyembuhan dari depresi, dan diperlukan kesabaran dan kegigihan mengikuti perawatan karena pemulihan membutuhkan waktu. Stress?tekanan bisa memperparah depresi, depresi dapat menimpa balita, anak, remaja, manula dan siapa saja tidak melihat usia.

Saat dulu saya ada dalam posisi depresi yang saya rasakan malas bergaul dan lebih suka menyendiri, mudah tersinggung, marah tanpa ada sebab, tidak fokus/konsentrasi disekolah, tidak ada mood untuk makan dan sulit untuk tidur dengan nyenyak.

“Hal yang harus dilakukan oleh orangtua saat anak mengalami Depresi”

  • Bicaralah dengan anaktentang kegiatan dan hal-hal yang terjadi di rumah, sekolah dan luar sekolah. Coba cari tahu hal yang mengganggu pikiran/perasaanya.
  • Bicaralah dengan orang yang anda rasa cukup/sangat mengnal anak anda.
  • Carilah bantuan dari tenaga kesehatan profesional (konsuler, psikolog,psikiater)
  • Lindungi anak anda dari tekanan yang terlalu besar bagi usianya, perlakuan yang merusak mental serta kekerasan.
  • Perhatikan kesehatan fisik, mental dan keperluan anak anda terutama saat ada perubahan-perubahan besar dalam hidupnya, misalnya pindah ke sekolah baru atau masa puber.
  • Upayakan anak untuk cukup tidur, makan teratur, aktif secara fisik dan melakukan kegiatan yang mereka sukai.
  • Luangkan cukup waktu dengan anak anda
  • Bila anak memiliki niatan atau malah sudah pernah melukai dirinya, carilah bantuan dari tenaga profesional sesegera mungkin untuk mencegahnya

 

Selain itu Depresi sering terjadi di klangan orang-orang usia lanjut, depresi di kalangan orang usia lanjut seringkali dihubungkan dengan kondisi fisik misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes atau rasa sakit yang kronis. Depresi pada manula/usia lanjut memiliki risiko tinggi melakukan bunuh diri, karna merasa sudah tidak berguna lagi untuk hidup di dunia dan depresi dapat disembuhkan dengan terapi wicara atau pengobatan anti depresan atau kombinasi dari keduanya.

Kini saya sudah menjadi orang tua dari kedua putra, yah pengalaman  pahit saya cukup menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam saya mendidik kedua putra saya. Kesalahan yang dulu orangtua saya lakukan sebisa mungkin tidak akan saya lakukan, tidak ada pilih kasih diantara anak, pastinya menjadi teman curhat untuk mereka, menjadi pendengar yang baik saat mereka memerlukan teman untuk berbicara dan berbagi suka dan duka mereka.

“jangan terlalu mengejar materi dan melupakan keluarga tercinta, karna sesungguhnya harta yang paling berharga adalah Keluarga”.

 

Comments

  1. semoga dengan pengalaman di masa lalu, echi jadi bunda yg lebih bijak untuk kedua anaknya. supaya anak anak tumbuj jd anak yg sehat raga dan jiwanya.

    ngeri loh penyakit jenis ini, susah dideteksi, dan hampir semua org pernah mengalaminya

  2. Teman ku sempat ngalamin sampai fase yang hampir buat dia bunuh diri,memang butuh penanganan serius ya bund dan harus cepat di tindak lanjuti,karena berhubungan dengan mental dan kejiwaan

  3. Bun Echi menyampaikannya dengan elegan. Saya setuju dg Bun Echi. Jangan ulangi kesalahan ortu kita. Saya termasuk korban pembedaan. Saya tidak akan ulangi itu ke anak saya jika saya dipercayakan anak ke2.

  4. Bund Echi hebat bisa melewati itu semua dengan indah. Dengan pengalaman bund echi, saya yakin anak2 bund echi dalam pengananan dan pengasuhan yang baik..
    selalu semangat… ?

  5. Ya Alloh…. Aku sedih bacanya mba echi, selalu tabah dan sabar ya mba, semoga dirimu selalu dalam lindungan Alloh SWT. Pengalamanmu sangat berarti sekali untuk masa depan anak2mu nanti, semoga akupun menjadi ibu yang mengerti akan kebutuhan anak2ku nantinya, kebutuhan diluar materi tentunya.

  6. Astaghfirullah, Ya Allah chi ???
    Harus belajar dr pengalaman masa lalu echi, Insyaa Allah kita d jadikan org tua yg slalu mengerti, memahami smua anak kita ya chi aamiiin

  7. hmm..baca tulisan ini..membawaku pada kenangan masa kecilku..tidak terlalu indah ‘tuk dikenang..namun benarlah pepatah berkata..berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke pantai .. alhamdulillah.. saya masih bisa belajar dari masa lalu 🙂 ‘tuk bekal mendidik anak semata wayang..aamiinn

  8. Dulu aku juga pernah merasakan depresi namun tidak melukai tubuh hanya saja selama 3 hari aku tidak bisa makan bahkan berbicarapun tidak sampai aku dipaksa bicara tetap tutup mulut rapat-rapat. Sedih memang jika mengingat masa lalu yang membuat rasa trauma. Kakak Echi saat ini kita hanya perlu memperbaiki apa yang sudah baik dan melupakan kenangan buruk itu.

  9. Sama bund echi. Aku pernh ngalamin itu juga. Cuma dulu mungkin aku ga paham dan ngerti kalau itu namanya depresi tapi ga sampe pingin bunuh diri hanya mrasa kayak ga adil. Yaaah mungkin jaman masih remaja dan ababil jadi pelarianya seperti memberontak aja. Udah lewaaat banget dan ssmpe skarang mencoba berdamai dgn masalalu perbaiki hubungan dengan orangtua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *