Bullying Bukan Virus, Hanya Tindakan Yang Menyimpang

Beberapa waktu lalu kumpul dengan Bloger-Blogger Kece di daerah Kuningan, dalam acara yang dipersembahkan MSIG Life dengan tema “Smart Mom, Protect Your Family Smile”. Mba Vera llabiliana Hadiwidjojo sebagai nara sumber kita hari ini, sekarang sangat semarak dikalangan Sekolah, rumah bisa dibilang hampir semua tempat ada yang namanya Bullying.

 

Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Ada banyak jenis Bullying. Bisa menyakiti dalam bentuk fisik, seperti memukul, mendorong, dan sebagainya. Dalam bentuk verbal adalah menghina, membentak dan menggunakan kata-kata kasar yang tidak baik diucapkan untuk orang lain.

Dijaman yang serba teknologi  ini bullying bisa dilakukan dimana dan kapan saja, bahkan tidak mengenal waktu kapan mereka akan mulai melakukanya. Cyberbullying adalah salah satunya mereka bisa sesuka hati meneror, menghina seseorang, sesuka hati sipelku bisa lewat media sosial, email, sms dan telepon.

Lalu bagai mana kita bisa tau mereka korban atau pelaku.

“Anaku usia 6 tahun, terkadang suka mencemooh temanya sekelasnya. Dan membuat nangis teman sekelasnya apakan anakku termaksud pelaku Bulliying??”

Dari pernyataan diatas harus dipelajari dengan seksama, apa sebabnya dia melakukan hal seperti itu. Lalu anakku menjawab abis dia duluan bunda yang ngatain aku, eh aku balas malah dia nangis. Dan hal seperti ini tidak termaksud dalam tindakan Bullying karna bisa di bilang hal ini adalah dia merasa tidak nyaman dan merasa harus membalasnya.

Yang Bisa di bilang Bullying Jika ada salah satu Faktor kejadian diantaranya :

  • Menggunakan pengaruh/kekuatan superior untuk mengintimidasi orang lain agar melakukan atau memberikan apa yang dia inginkan.
  • Perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja melibatkan yang tidak seimbang, berulang kali atau berpotensi untuk berulang-ulang.

Bunda percaya nggak sih tanpa sadar kita mencontohkan bulliying ferbal kepada anak-anak, misalnya dengan kita bergosip, tanpa sadar kita membully entah kekurangan tetangga kita atau kelebihan mereka yang kita tidak miliki. Tanpa sadar anak-anak mencontohnya dan melakukan hal yang sama kepada teman-teman mereka, mengejek sekiranya teman yang berpenampilan berbeda dari kita karan warna kulitnya berbeda, bentuk rambutnya terlihat aneh karena dia baru datang dari daerah lain.

Ciri-ciri Pelaku Bullying antara lain :

  1. Sering kali bersikap kasar
  2. Sulit mengontrol amarah
  3. Manipulatif
  4. Cepat menyalahkan orang lain
  5. Tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan/kesalahan yang sudah dia perbuat
  6. Merasa harus menang/menjadi yang terbaik dalam segala hal
  7. Mencari perhatian secara berlebih

Ke tujuh ciri-ciri bullying ini harus kita perhatikan pada anak-anak kita, jika memang ada sekiranya 3 tanda dari ke tujuh ini harus cepat kita tangani agar tidak membesar dan akan fatal jadinya. Sikap bulliying ini tanpa sadar mereka dapat dari lingkungan sekitar dan terutama lingkungan keluarga, dari orang tua yang memiliki tempramental hingga sering berkata kasar kepada pelaku sehingga mereka menganggapnya satu hal yang wajar jika mereka melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Hal yang harus kita lakukan jika anak menjadi pelaku Bullying.

  • Lalu bagimana jika kita mendapati anak kita sebagai pelaku bullying di sekolah, seperti yang saya bilang tadi bunda coba kita cari tau dari mana anak mendapatkan sikap seperti itu tetaplah bersikap obyektif.
  • Carilah tau kenapa anak kita bisa melakukan hal tersebut, biarkan anak bercerita kita cukup menjadi pendengar. Siapa tau anak kita hanya membalas dari perilaku teman di sekolahnya.
  • Saat kita mendengan setuatu aduan dari Guru, teman anak kita atau siapapun tentang perilaku anak kita yang kurang baik, Tanggapila Hal tersebut dengan serius.
  • Sikap yang paling kesatria adalah “Minta Maaf” buat agar anak kita meminta maaf dengan tulus, dan usahakan tiadak ada dendam dalam permintaan maaf sianak kepada temanya.
  • Belajar koreksi diri sendiri tentang perlakuan kita kepada anak kita, siapa tau sianak ini secara tidak langsung menjadi “Korban di rumah”
  • Jangan pernah menyudutkan anak dengan apa yang sudah mereka buat, mencobalah menjadi kawan mereka “Ambil tindakan korektif”

Memang dizaman sekarang ini, banyak para Bunda yang berkerja diluar sana untuk membantu keuangan dirumah. meningkatnya kebutuhan hidup membuat kita harus meninggalkan anak dirumah, namun tidak jarang kita ibu rumah tangga tulen suka lengah dengan anak kita. Apapun profesi kita saat ini, setidaknya luangkan waktu cukup 30 menit dalam satu hari menjadi tempat curhat anak kita, medengarkan mereka bercerita tentang harinya. Karna kita tidak tau apa yang mereka alami di luar rumah.

Lalu Bagai Mana Dengan Tindakan Untuk Korban Bulliyin.

Terdengar sangat miris jika lingkungan sekolah yang untuk menimba ilmu malah menjadi tempat ajang Bullying, dengan menyalahkan Guru atau pihak sekolah tidak menyelesaikan masalah. Pada kasus ini , cenderung korban bullying tidak berani memberi tahu siapapun tentang kondisi yang dialaminya, mungkin dia merasa diancam oleh pelaku. Dan pihak sekolah kesulitan untuk melacak siapa falang dari Pembullian disekolah.

Sebagai orang tua, ada baiknya mengenal tanda atau gejala yang biasa ditunjukan korban bully, baik secara langsung atau tidak langsung. Dan berikut ini tanda-tanda yang perlu kita waspadai :

  1. Korban sulit tidur ( insomnia)
  2. Sulit berkonsentrasi di kelas atau kegiatan apapun.
  3. Sering membuat alasan untuk bolos sekolah (biasanya ditandai dengan mulai membuat alasan seoerti sakit perut, pusing, mual dll)
  4. Menjauhkan diri dari aktivitas yang disukai sebelumnya.
  5. Tampak gelisah, lesu, muram, cepat putus asa terus menerus, cemas dan menutup diri dari lingkungan
  6. Sering mengeluh kehilangan barang atau barang barang rusak.
  7. Nilai sekolah mulai anjlok, tidak pernah mengerjakan pr, tidak mau kesekolah dan selalu berbohong.
  8. Timbulnya luka-luka memar di sekujur badan, selalu berkelat/berbohong jika ditanya sebabnya

Lalu bagai mana cara untuk mendekati mereka dan mendapatkan informasi yang benar, Bunda disini kesabaran kita dan hanya kita yang tau bagai mana menghadapinya. Jangan pernah menekan anak untuk mengakui bahwa di korban bulliying, anak mereka ngobrol seperti biasa dekatkan diri kita menjadi seorang teman yang siap mendengarkan semua ceritanya. Tak jarang jika salah penanganan pada korban bulliying akan berujung pada kematian, anak menjadi tertekan di dua arah hingga memutuskan untuk buhuh diri.

Sebagai orang tua pelaku atau korban, kita sama-sama mencari solusi agar tidak ada kejadian seruma menimpa mereka lagi atau anak lainya. Jangan pernah menyalahkan koran atau pelaku, Ingat bunda tidak asat satu kesalahan pun yang tidak bisa diperbaiki, dan ingat luangkan minimal 30 menit waktu anda untuk menjadi tempat cerita untuk anak kita dengan demikian tidak ada lagi korban atau pelaku Bullying.

Jangan Membully Diri Sendiri, Dengan pengaturan keuangan yang tidak Benar.

Bunda sebagai perempuan yang memegang kunci tentang semua kondisi rumah termaksud kunci keuangan kita harus selektif mengatur pengeluaran dan pemasukan yang ada. Jangan sampai kita membully diri kita sendiri dengan satu hal seperti “Lebih besar pasak dari pada tiang”.

Menurut mas Aakar Abyasa Fidzuno, kita hidup dijaman seperti ini harus pintar membagi waktu, peluang dengan semua yang ada. Middle Income Trap adalah sebuah kondisi dimana seseorang yang memiliki penghasilan ‘ditengah’ namun ingin memiliki gaya hidup seperti orang yang memiliki penghasilan diatas dari hasil yang mereka capai. Waduh gawat juga ya kalo sepeti ini, semoga aku tidak termaksud yang membulli diri sendiri.

Manusia tipe ini biasanya tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti, memiliki banyak asuransi tapi tidak sesuai dengan tujuanya. Perilaku yang menyimpang ini jika terus dilakukan akan merugikan dirinya sendiri, bagai mana tidak setiap dia memiliki uang selalu habis tidak karuan kemanauang yang sudah dia cari.

Lebih parahnya lagi saat dia kehabisan uang, akan mencoba mengambil uangnya dari tabungan untuk pendidikan atau deposito dibank dan kemungkinan buruknya lagi orang seperti ini tidak sungkan untuk meminjam uang denagn alasan yang tidak masuk akal, tanpa memperdulikan akan dibayar pakai apa besok hutangnya.

Yuk Atur Uangmu…

  • Harus bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan
  • Siapkan dana darurat, harus mempunyai dana tersebut ya sekiranya kita sakit keras dan membutuhkan uang yang cukup besar
  • Pilihlah tabungan yang tepat, sesuai apa yang kita mau misalnya tabungan pendidikan untuk anak, tabunga hari tua, atau deposito
  • Usahakan tidak memakai kartu kredit, gunanya untuk menghindari hutang yang tak terduga jumlahnya
  • Kita bisa memulai dengan berinvestasi, sesuai yang kita inginkan dan yang pastinya terpercaya.

Kita harus tau dari usia berapa kita bekerja dan pada usia berapa kita stop untuk bekerja, jabgan sampai dengan gaya hidup yang salah kita malah seumur hidup terus-menerus bekerja tanpa ada waktu untuk menikmati hidup dengan apa yang kita sudah cari.

 

Comments

  1. bully ingatkan aku waktu kecil
    iya sama seperti itulah efek menjadi korban bully, sampai bolos sekolah dan minder kalau masuk sekolah
    hihihi jadi curcol
    semoga tdk ada lg kasus si bully.
    masalah keuangan ada benernya juga sih tidak perlu beli yg ga butuh bgt ya..

  2. Bullying harus ditangani dengan tepat dan sesegera mungkin baik penanganan terhadap korban atau pelaku. Yg selama ini terjadi adalah penanganan lebih terfokus pd korban bullying, pelaku diabaikan.

  3. Bullying yang sekarang ini marak memang membuat kita prihatin. Apalagi kejadiannya di lingkungan sekolah yg notabene merupakan tempat berpendidikan. Semoga setiap kasus bullying dapat ditangani dengan baik,baik dari sisi korban,pelaku maupun saksi. Terima kasih tuk sharing infonya.

  4. Bullying ini emang kudu diatasin bener2 ya mbak.
    Apalagi kalau korban dan pelaku sama2 masih anak2. Kudu butuh penanganan khusus…
    Soal keuangan emang sebaiknya pengeluaran itu jgn sampai melebihi pendapatan TFS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *