Sara & Fei Stadhuis Schandaal, Film Sejarah dengan tiga lokasi

Kemajuan perfilman Indonesia sangat pesat, banyak karya-karya yang bermunculan begitu juga artis-artis pendatang baru. Hingga sutradara senior yang sudah sekian lama tidak memproduksi film saja jadi tertarik kembali untuk membuat film yang mengusung tempo dulu tapi dikemas dengan begitu apik agar dapat dinikmati oleh konsumen di zaman ini.

Kiprah perdana XELA Pictures ini tentunya melihat adanya geliat industri film yang semakin bergairah dengan jumlah penonton yang menjadi pasar potensial. Berdasarkan data dari www.filmindonesia.or.id pada tahun 2017, sebanyak 116 film panjang ditayangkan ke bioskop-bioskop Tanah Air dimana jumlah penonton meningkat dari 34,6 juta di tahun 2016 menjadi 37 juta penonton di tahun 2017.

Saat saya menonton Film ini, serasa sedang di bawa untuk belajar mengenai Sejarah yang sudah tidak ada pelajaranya lagi di Sekolah-sekolah ( sungguh disayangkan). Cara penyampaian dalam film sangat halus sekali sehingga seperti menyusun pazzel di dalam film ini, ada sedikit drama percintaan dan beberapa dialog dan adegan yang bikin saya tidak habis fikir tapi justru membuat film ini berbeda dan unik. Kalian wajib banget nonton film ini jika ingin diajak berwisata ke tiga tempat yaitu Jakarta, Pangkalan Bun (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok).

‘Sara & Fei Stadhuis Schandaal’

Film ‘Sara & Fei Stadhuis Schandaal’ berkisah tentang mahasiswi, Fei. Saat melakukan riset dikota tua Batavia, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Fei didatangi gadis blasteran Belanda-Jepang bernama Sara. Suatu hari setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fatahilah. Dulunya,gedung ini adalah balai kota bernama Stadhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17,masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari sini cerita semakin menarik. penuh misteri dan pesan.

“Kami melihat potensi penonton film Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke manca negara termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film perdana kami ini”,ujar Alexander Sutjiadi, Pemilik XELA Pictures dan Prosedur Eksekutif Film ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’.

Di film perdananya ini, XELA Pictures menggandeng sutradara senior, Adisurya Abdy untuk menghadirkan sebuah film berlatar belakang jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu namun dikemas dengan gaya kekinian.

“Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal”, jelas sutradara era tahun 1980 an yang ngetop dengan film Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara, Ketika Cinta Telah Berlalu dan beberapa film populer lainnya, Adisurya Abdy.

Dengan kekuatan cerita, Omar Jusma yang menjadi produser pun optimis film ‘Sara & Fei Stadhuis Schandaal” dapat meraup banyak penonton. “Kami memasang bintang yang berpotensi dan memiliki karakter yang sesuai dengan film ini”, jelas Omar

Tak pelak, ini merupakan sebuah film drama yang meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini atau yang biasa disapa dengan generasi millenials. Konsep artistik pun disesuaikan dengan jaman itu. Sampai-sampai sang sutradara, Adisurya Abdy membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi visual effect, sebagaimana digunakan oleh industri perfilman modern saat ini.

Hal menarik lainnya dari karya film terbaru Adisurya Abdy setelah vakum cukup lama ini adalah ia mengambil sejumlah aktor maupun aktris berpotensi yang kebetulan baru terjun di dunia film. Alhasil beberapa wajah baru disodorkan di film ini seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie.

Para pemain pendatang baru ini jika saya tidak dengar mereka pendatang baru mungkin tidak akan percaya, karna pemeran sebagai fei sangat luwes sekali.

Demi meraih minat penonton di pasaran Tiongkok, film ini mengambil lokasi syuting di dua negara yaitu Jakarta, Pangkalan Bun (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok).

Film ini juga menghadirkan pemain pendukung yang sudah malang melintang di industri film Tanah Air yaitu Anwar Fuady,George Mustafa,Rowiena Umboh,Rensy Millano,Tio Duarte,Septian Dwi Cahyo,Iwan Burnani,Julian Kunto,Aby Zabit El Zufri serta beberapa pemain pendukung lainnya seperti Lady Salsabyla,Ricky Cuaca,Stephanie Ady,Iqbal Alif,Andhika Ariesta dan Yurike Cindy.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *